Saturday, August 9, 2008

DIABETES MELLITUS, Jumlah Penderita di Indonesia Keempat Dunia

Jumlah penderita diabetes mellitus yang terus meningkat di Indonesia perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan keempat terbesar dunia dengan prevalensi 8,6 persen dari total penduduk setelah India, China, dan Amerita Serikat.
Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari saat membuka Kongres Nasional VI Persatuan Diabetes Indonesia di Jakarta, Sabtu (3/9), menambahkan perlunya upaya pencegahan dan penanggulangan. Karena bila telah terjadi komplikasi, bisa terjadi kecacatan, menurunnya usia harapan hidup dan tinggginya pembiayaan kesehatan untuk semua golongan masyarakat, katanya.
Komplikasi diabetes antara lain penyakit pembuluh koroner (jantung koroner), penyakit pembuluh darah perifer, stroke, neuropati diabetic (gangguan pada pembuluh saraf), amputasi, gagal ginjal, dan kebutaan.
Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan, jumlah pasien diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin.

Tahun 1995 jumlah pengidap diabetes diperkirakan 4,5 juta, tetapi tahun 2005 diperkirakan menjadi 12,4 juta penderita. Peningkatan ini terutama diakibatkan oleh pertumbuhan populasi, proses penuaan, pola makan yang tidak sehat, obesitas, dan gaya hidup sedentaris (kurang olahraga).
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis karena hal-hal di atas, faktor keturunan, atau gabungannya.

Defisiensi insulin
Pada penderita diabetes terjadi defisiensi dalam produk insulin oleh pankreas. Padahal, insulin dibutuhkan untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan cara menyalurkannya ke dalam sel-sel tubuh yang membutuhkan. Glukosa dibutuhkan sebagai sumber energi tubuh.
Selain menyalurkan glukosa ke dalam tubuh, insulin juga membantu pembentukan jaringan otot dan lemak dengan menyimpan glukosa dalam bentuk glukogen sebagai cadangan energi dalam tubuh kita. Bila produksi insulin cukup dan bekerja dengan efektif, kadar glukosa dalam darah dipertahankan pada kisaran 60 sampai 115 mg/dl.
Karena adanya gangguan produksi dan atau efektivitas insulin, maka pada diabetes mellitus terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah. Peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah dapat mengganggu berbagai sistem tubuh, khususnya pembuluh darah dan persarafan.
Menurut konsensus pengelolaan diabetes mellitus di Indonesia, diabetes mellitus ditetapkan bila pada pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu mencapai 200 mg/dl atau lebih atau kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl.
Terdapat dua jenis diabetes mellitus, yaitu diabetes mellitus tipe 1, yaitu kondisi defisiensi produk insulin oleh pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin. Banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja, tetapi belakangan ini banyak pula pada orang dewasa.
Selain itu, diabetes mellitus tipe 2 yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin (resistensi insulin) sehingga tidak tercapai kadar glukosa yang normal dalam darah. Diabetes mellitus tipe 2 lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi sekitas 90 persen dari semua kasus diabetes di seluruh dunia. Meskipun lebih sering diderita orang dewasa, diabetes tipe 2 mulai diderita kelompok usia remaja.
Diabetes mellitus bisa menunjukkan gejala yang tampak jelas, tersamar, tetapi pada beberapa orang, diabetes bisa diderita tanpa gejala. Pada diabetes tipe 1, gejala klasik meliputi sering buang air kecil, mudah haus, berat badan menurun meskipun asupan cukup, dan mudah lelah. Gejala-gejala ini tidak terlalu nyata pada tipe 2 sehingga pasien baru didiagnosis setelah terjadi komplikasi.

(Jakarta, Kompas, Senin 05 September 2005)

Back to Nature


Motto pengobatan alternatif: “Semua penyakit manusia umumnya dapat diobati dengan pengobatan yang bersifat alami, seperti dengan menggunakan obat-obat HERBAL. Apabila kita tidak dapat menemukan cara pengobatan dari bahan-bahan alami, itu bukan berarti bahan-bahan tersebut tidak berguna, melainkan cara yang kita gunakan salah atau belum menemukan herbal/nutrisi alami yang tepat”.

No comments:

Post a Comment